ME

Tuesday, April 13, 2010

elegimelankolia~syndrom Online...

©elegimelankolianulisblog

elegimelankolia post..[jam 12 malam]...Online..Online..Online.. terdengar dan terasa mengasyikkan dan bahkan memiliki zat adiktif kuat untuk memaksa secara tak sadar layaknya terhipnotis para Onliner [sebutan bagi pengguna internetan.red]. Begitulah fenomena saat ini, berdasarkan survei subjektif dari elegimelankolia menyatakan bahwa perilaku Onliner  mencapai puncaknya sejak kemunculan Facebook, Twitter, Plurk, Friendster [yang dah ganti tampilan], dan masih banyak lainnya [capek tau kalo nulisin semua]. Saat ini Facebook merupakan pilFar [ini bukan nama obat berbentuk pil, tapi singkatan dari "pilihan Favorit] dalam dunia maya khususnya sebagai jejaring ikan..ups.. salah maksudnya jejaring sosial. Menurut penuturan beberapa oarang yang tidak mau disebut namanya menyatakan bahwa facebook menjadi pilFar karena terdapat fitur-fitur sederhana tapi keren ditambah lagi games-gamesnya seperti POKER [eh, kamu udah dapat chip berapa? bagi donk!!], Ninja saga [udah level 26 tau]..heheh.
maaf postingan kali ini bersambung..Segera tunggu elegimelankolia~syndrom Online...Session 2 [gua mau nandingin Tersanjung 6 dan Cinta Fitri Session 5] klo dari luar negeri [Heroe session 5 dan SAW session 4]..

udah ah.. serius amat sih..bye..bye..wassalam.



SIAPA MENJAJAH WANITA ?

Oleh : Arini

 Untuk melihat permasalahan wanita, sebagian besar orang masih menggunakan kacamata subyektif. Wanita memandang

permasalahan kaumnya dari sudut pandang kewanitaannya, sedangkan laki-laki dengan tolok ukur kelelakiannya. Intinya

masing-masing memandang wanita hanya sebagai ‘wanita’. Dan selama baik wanita maupun laki-laki memandang wanita

dari kepentingan masing-masing, selama itu pula permasalahan wanita akan tetap mengambang, tak terselesaikan.

Tak dapat diingkari bahwa dalam faktanya, wanita memang menghadapi problema. Kita membutuhkan pandangan yang jernih

untuk menganalisis bagaimana problema itu muncul dan bagaimana memecahkannya secara tuntas. Karena itu, kita akan

mencoba menelusuri permasalahan wanita di berbagai belahan dunia untuk dapat menyimpulkan pangkal permasalahannya.

Wanita Amerika: Bumerang Emansipasi

Amerika adalah negara tempat lahirnya Gerakan Pembebasan Wanita atau Women’s Liberation. Sampai saat ini, wanita-

wanita Amerikalah yang bersuara paling nyaring dalam memperjuangkan persamaan hak wanita. Suatu hal yang tidak

mengherankan jika kita melihat bagaimana buruknya kondisi wanita sampai awal abad ke-20. Pada saat itu kaum wanita

Amerika dianggap sebagai warga kelas dua yang tidak boleh mengikuti pemilihan umum. Dalam segi hukum perkawinan,

para wanita tidak berhak menguasai harta miliknya sendiri, sekalipun dia dapatkan dari bekerja. Harta itu tetap

menjadi milik suaminya. Begitu pula dalam hal pendidikan, kaum wanita menemui banyak hambatan untuk mendapatkan...

Sunday, April 11, 2010

LOVING THE CRITICS

LOVING THE CRITICS?
A Letter from Hingdranata Nikolay

Pernah mengucapkan atau mendengarkan orang lain mengucapkan kalimat seperti: “Itu ide yang bodoh”, “Mana mungkin itu bisa berhasil?”, “Tidak akan bisa berhasil”, “Kamu benar-benar tidak memahami hal ini”, “Kamu tidak peduli dengan orang lain”, dan sejenisnya?

Kalimat-kalimat di atas merupakan kalimat yang mewakili peran ‘CRITICS’ dalam NLP. Di NLP dikenal 3 peran, DREAMER, REALIST, dan CRITIC. Peran ini memainkan fungsi sesuai namanya. DREAMER adalah peran kreatif, pemimpi ide, out of the box, fantasi, dan sejenisnya. REALIST menempatkan segala sesuatunya di tempatnya, mengorganisir dan menjamin efektifitas. CRITICS bertanya apa yang salah dari ini, bagaimana menurut pendapat saya tentang ini, atau bagaimana kita membuatnya lebih berguna, atau efisien?

Peran CRITIC ini merupakan peran yang sulit diterima responnya, terutama apabila kurang mawas akan efek yang ditimbulkannya ke partner komunikasi, dan partner komunikasinya lebih memperhatikan perilakunya dibanding NIAT-nya. Dalam banyak kesempatan saat berkomunikasi, CRITIC melontarkan kalimat-kalimat yang hanya memaksa orang lain untuk setuju atau tidak setuju. Ini ‘seperti’ meminta partner komunikasi menjadi kawan atau lawan. Ini yang menyebabkan dalam melontarkan kata-kata dari peran CRITIC, kata-kata kita tersebut seringkali tidak disukai. Bayangkan orang berkata kepada Anda ‘Itu ide terbodoh yang pernah saya dengar’ atau ‘Kamu sudah gila yach?’.

Padahal, NIAT dibalik peran CRITIC ini sebenarnya POSITIF. Karena itu di NLP, anjurannya adalah pisahkan perilaku dari NIAT, dan NIAT adalah POSITIF.

Coba bayangkan saat kita melontarkan sebuah ide, yang bisa dipersepsikan sebagai pesan agar partner bicara saat itu berperan sebagai CRITIC untuk memberikan feedback terhadap ide tersebut, lalu dia langsung mengatakan bahwa ‘Itu tidak masuk akal!’. Ini menempatkan kita pada posisi ‘setuju’ atau ‘tidak setuju’ dengan pendapatnya tersebut. Yangmana, sedikit banyak membawa pesan ‘negatif’, bahkan seolah mengirimkan pesan bahwa yang mengungkapkan itu bodoh sekali, untuk bisa mengungkapkan sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu. Dengan proses generalisasi yang kuat pengaruhnya di pikiran kita, apabila terjadi kedua atau ketigakalinya hal seperti ini, kesempatannya sangat kecil bagi kita untuk bahkan menyampaikan ide kita kepadanya di kemudian hari. Ini sebabnya orang dengan kecenderungan berperan sebagai CRITIC dalam banyak situasi, kurang disukai. Ekstrimnya, DREAMER dan CRITIC bukanlah peran yang bisa bersahabat dengan baik apabila tidak punya kemampuan komunikasi yang efektif.

Walau beroperasi dari sisi ‘mismatch’ atau ‘mencari’ yang salah, CRITIC sebetulnya bisa mendapatkan respon lebih positif dari partner bicaranya, apabila paham teknik komunikasi dan pola membingkai kalimat lebih efektif.

Kalau kita mau mundur sejenak dan memikirkan kira-kira apakah NIAT yang lebih tinggi dari sikap partner bicara tersebut dengan mengatakan demikian? Mungkin dia ingin agar kita tidak membuang waktu dengan ide yang menurutnya tidak bagus? Nah, di sini, NIAT-nya khan positif. Dia ingin Anda tidak buang waktu. Bagaimana apabila dia bisa menjawab dengan lebih efektif: “Saya melihatnya sebagai sesuatu yang sulit, bagaimana sampai kamu bisa yakin akan berhasil?” Yangmana lebih positif, fokus ke SOLUSI, dan tidak menyudutkan.

Salah satu cara terbaik untuk menjadi CRITIC adalah dengan berpikir dan berkata-kata dari SOLUTION FRAME, bukannya PROBLEM FRAME. Jadi, dibanding mengatakan ‘Ide itu bodoh sekali’; yangmana menempatkan fokus ke masalah dan menyerang partner bicara, seorang CRITIC bisa bertanya ‘bagaimana menurut kamu ide kami itu bisa efektif, karena menurut saya agak sulit’, lalu mengeksplorasi dan men-challenge secara positif idenya. Atau dibanding berkata ‘Itu khan bukan tugas saya?’, misalnya, kita dapat berkata ‘Mari kita lihat siapa orang yang paling tepat posisi dan perannya untuk mengerjakan ini’. Kedua contoh di atas menempatkan fokus CRITIC pada SOLUSI. Dan perhatikan bahwa kedua contohnya membawa NIAT positif, hanya saja dibingkai dengan kurang efektif. Dengan bingkai berbeda, yakni lebih ke solusi, peran CRITIC lebih bisa diterima.

Jadi, PILIHAN SIKAP hari ini, apabila Anda dalam posisi atau peran CRITIC, yang dimintai atau memberikan feedback, yang ingin mencari atau menemukan kekurangan dalam sebuah ide, Anda mempunyai PILIHAN untuk membingkai kata-kata yang lebih fokus ke SOLUSI. Apalagi, apabila selama ini Anda dikenal sebagai seorang dengan kecenderungan CRITIC yang lebih suka dijauhi.
Sedangkan apabila Anda cukup sering berada di ujung yang lain, yang sering menerima kata-kata berbau peran CRITIC, Anda sekarang tahu punya PILIHAN untuk melihat lebih dalam dan bertanya dahulu NIAT POSITIF apa dibalik kata-kata partner bicara, sebelum bereaksi.


Have a positive day!

Hingdranata Nikolay
www.inspirasiindonesia.com
"If you believe it, you will see it"

I cried for my brother six times

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning,
dan punggung mereka menghadap ke langit.
Aku mempunyai seorang adik, tiga? tahun lebih muda? dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya,
Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku.
Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
adikku dan aku berlutut di depan tembok,
dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku
terpaku, terlalu takut untuk berbicara.
Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi
Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian
berdua layak dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan
berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"


Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia
terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu
bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah
sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa
mendatang?
Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"


Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan
kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan
air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat,tapi
insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak
pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku.
Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama,saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu,
ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya?
Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,telah
cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan
memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh
dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak,masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku,
dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada
punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (diuniversitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor
tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu
tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku.
Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat
dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan,
"Saya melihat semua gadis kota memakainya.
Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku
menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca
jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana.
Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.
"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk
membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu
adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru? itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.
Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.
"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di
lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap
waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."
Ditengah kalimat itu ia berhenti.
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata
mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.


Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali
suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal
bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.
Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun,
mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku
tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu saja.
Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan
adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen
pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk
memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik,
dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya? menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang
berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius.
Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur,
dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar
kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!" "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.
Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya.
Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan
menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,
"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku."
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan
kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti
sungai.

Sumber: Diterjemahkan dari "I cried for my brother six times"
rsuregar's blog. All rights reserved. © Mabbaju Co.